LANGIT…
Pernahkah teman-teman mendengar kata “langit”!?
Ya, pasti semua orang tau apa itu langit.
Lalu, bisakah teman-teman memberikan definisi kata “langit”?
Tak semua orang mampu untuk itu.
Sebenarnya
langit bukan hanya sebatas apa yang ada di atas kita, tapi lebih dari
itu. Dalam Al – Quran, Allah menyebutkan kata – kata langit sebagai
sumber rezeki bagi manusia.
“sesungguhnya pada penciptaan langit
dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, adanya perahu yang berlayar
di laut membawa barang yang berfaedah bagi manusia,air yang diturunkan
Allah dari langit yang digunakan untuk menyuburkan bumi sesudah mati dan
membiakkan binatang – binatang serta pengisaran angin dan awan yang
dikendalikan antara langit dan bumi, benar-benar menjadi tanda bagi
orang-orang yang berfikir.”(Al-Baqarah : 164)
Langit diciptakan
oleh Allah sebagai tanda kebesaran-Nya, yang darinya diturunkan hujan
untuk menyuburkan bumi sebagai sumber rezeki bagi seluruh penghuninya.
Jadi,
langit dapat kita definisikan sebagai seluruh lapisan jagad raya. Jagad
raya terdiri dari milyaran galaksi, dan dari satu galaksi terdapat
milyaran bintang. Bumi berada pada galaksi yang paling kecil (galaksi
Bimasakti). Lalu pertanyaannya adalah dari milyaran galaksi, apakah
kehidupan hanya berlangsung di atas bumi? Apakah tidak ada kehidupan
pada milyaran galaksi yang lain? Apakah alien itu ada?
TRAGEDI TENTARA BERGAJAH…
Teman-teman
tentu ingat dan tau pasti tragedy apa yang terjadi pada saat kelahiran
Rasulullah, yaitu pada tahun Fiil (gajah). Pada masa itu, tentara
Abrahah dan rombongannya bergerak untuk menghancurkan Ka’bah. Tapi
sebelum sempat dihancurkan, Allah telah mengutus suatu rombongan makhluk
yang dinamakan burung Ababil untuk melempar pasukan tersebut dengan
kerikil yang menghabisi daging mereka ibarat daun yang dimakan ulat.
Namun, para ahli tidak pernah menemukan spesies burung Ababil di dalam
dunia ini. Kalau begitu, darimana asal burung tersebut? Dari surgakah?
Atau dari galaksi yang lain?
Wallahu’alam….
MANUSIA ADALAH ALIEN…???
Dahulu,
manusia yang pertama diciptakan oleh Allah SWT. adalah Nabi Adam AS.
Dan kemudian turut diciptakan pendampingnya yaitu Siti Hawa. Mereka
berdua tinggal bahagia di dalam syurga. Namun karena suatu kesalahan
yang mereka lakukan, Allah melemparkan keduanya diatas muka bumi. Hawa
terlempar di Benua Afrika, sedangkan Adam terlempar di Palestina.
Kemudian keduanya kembali bertemu di Jabal Rahmah setelah beratus –
ratus tahun lamanya. Setelah itu, Adam dan Hawa kembali ke Palestina dan
membangun Masjidil Aqsa.
Ini membuktikan bahwa manusia bukanlah penduduk asli bumi, melainkan ALIEN (pendatang).
Lalu, bagaimana dengan teori Evolusi yang dikemukakan oleh evolusonis?
Neanderthal,
Cro-Magnon, Homo floresiensis, Homo erectus, Homo ergaster, Homo
habilis, Paranthropus bosei, Paranthropus aethiopicus, Australopithecus
africanus, dan Australopithecus afarensis. Nama – nama itu diciptakan
oleh para ilmuwan sebagai nama nenek moyang kita sebelum akhirnya
berevolusi (berubah) menjadi Homo Sapiens (manusia modern). Namun,
sebenarnya tidak ada bukti fosil yang nyata untuk mendukung gambaran
“manusia kera” yang tidak putus – putusnya diindoktrinasi media masa dan
akademisi evolusionis tersebut. Dengan kuas di tangan, evolusionis
membuat makhluk-makhluk khayalan. Namun, mereka memiliki masalah serius
karena tidak ada fosil – fosil yang cocok dengan gambar – gambar itu.
Salah satu metode menarik yang mereka gunakan untuk mengatasi masalah
ini adalah dengan MEMBUAT fosil-fosil yang tak dapat mereka temukan.
Lalu,
apa hubungan semua spesies itu dengan kita, manusia modern?? Nah,
itulah mata rantai yang terputus yang masih terus berusaha dicari
“sambungannya” oleh para ilmuwan.
Selama bumi masih ada, evolusi akan terus terjadi. Syarat evolusi adalah:
1.
Variasi abadi di bumi. Misalnya dapat kita lihat, tidak ada satu
manusiapun yang identik atau sama persis, meski kembar siam sekalipun.
2. Lingkungan yang tidak stabil, yaitu adanya perubahan siang dan malam, perubahan suhu, dll.
Sebagai
contoh nyata evolusi, dapat kita lihat perbedaan dari postur tubuh
orang terdahulu dengan orang zaman sekarang. Juga dari segi usia,
misalnya para nabi terdahulu (sebelum Nabi Muhammad), mereka hidup
berabad – abad lamanya, sedangkan Nabi Muhammad hanya hidup 63 tahun.
Tanda bahwa manusia bukan makhluk bumi :
1. Dapat memperlebar kisaran toleransi.
Takdir
dalam bahasa sains disebut dengan kisaran toleransi. Kisaran toleransi
memiliki tiga zona. Zona pertama disebut batas bawah. Zona ini
mempengaruhi tumbuh kembang makhluk hidup. Apabila makhluk hidup berada
pada zona ini, maka makhluk tersebut tidak dapat berkembang dan
mempunyai keturunan. Zona kedua adalah zona ideal (preferendum). Makhluk
hidup dapat melakukan segala sesuatu pada zona ini. Dapat meneruskan
hidupnya dengan baik, berkembang biak, dan tumbuh sempurna. Zona
terakhir disebut zona atas. Bila makhluk hidup berada pada zona ini, itu
pertanda bahwa makhluk tersebut mengalami stress dan mendekati mati.
Dapat kita lihat, zona yang terbaik adalah zona kedua. Nah, zona ini
adalah takdir yang tidak dapat diubah oleh makhluk bumi. Sebagai contoh,
ikan takdirnya adalah hidup di dalam air. Maka ia tidak dapat hidup
ditempat lain. Kisaran toleransinya hanya sebatas air.
Namun, manusia
yang bukan asli makhluk bumi dapat memperlebar kisaran toleransi untuk
dirinya sendiri dan makhluk lain. Contoh: manusia ditakdirkan hidup di
darat. Namun, manusia dapat juga masuk ke air selama berjam – jam dengan
bantuan tabung oksigen.
Contoh selanjutnya, manusia dapat
mengubah habitat padi. Habitat padi yang sebenarnya bukan disawah. Coba
saja teman – teman uji. Lempar beberapa biji padi kesawah, lalu biarkan
saja. Jangan beri perawatan, jangan beri pupuk. Akan tumbuhkah padi
tersebut??
Tidak!
Namun manusia dapat merancang habitat baru bagi makhluk hidup di bumi.
2. Bumi tidak butuh manusia.
Saya akan mencontohkan satu makhluk bumi yang tampangnya kelihatan jelek, yaitu kelelawar.
Kelelawar
adalah makhluk hidup yang berfungsi dalam penyerbukan durian. Bayangkan
jika tanpa kelelawar, tak ada yang membantu penyerbukan durian. Lalu
batang durian akan punah dan makhluk hidup yang bergantung pada durian
akan mati. Habitat – habitat lain yang bergantung pada makhluk hidup
yang telah mati tadi, juga akan mati. Dan begitu seterusnya. Itu hanya
jika bumi kehilangan satu makhluk jelek, KELELAWAR.
Nah, bagaimana jika bumi kehilangan manusia?
Coba kita bayangkan. Jika kita meninggal dunia, berpengaruhkah bagi alam dan makhluk lain?
Jika orang sekampung meninggal dunia, berpengaruhkah bagi habitat – habitat lain?
Jika orang se-negara meninggal dunia, berpengaruhkah bagi kelangsungan makhluk hidup lain?
TIDAK!
Karena bumi tidak butuh manusia. Karena manusia hanya pendatang, alien.
Tanpa
manusia, bumi akan semakin makmur dan subur. Ingat, kita hanya
menumpang diatas planet milik makhluk lain. Kita adalah alien. Kita
hanya berperan sebagai pengelola, bukan pemilik. Jika kita baik dalam
mengelola, maka baiklah bumi. Jika tidak, maka buruklah keadaan bumi.
Sumber : hasil dengar dari mata kuliah Ilmu Kealaman Dasar bersama pak Dalil Sutekad.