Menyatu dengan urat – urat biru yang tampak dari ujung kuku
Itu warna surga kau kata, meski kita tahu warna surga lebih indah dari ujung kuku
Aku manggut demi menangkap silaumu yang segera berlalu
Sinarmu semakin gelap pada jari – jari tanganku
Bagai matahari yang melorot di balik laut berair perak, membenamkan segala terang
Memberitakan pada manusia ia mulai lemah menjajakan cahaya
Kau lebih tau tentang itu kurasa, karena kau tinggi seperti matahari
Seperti yang dulu pernah kukata
Aku rumput dan kau matahari
Semua bisa menginjakku, tapi tak bisa menginjakmu
Angin dapat menggolekkan tubuhku, tapi tak dapat menggolekkanmu
Aku buram tanpamu, dan kau tetap bercahaya tanpa aku
Aku rumput dan kau matahari
Aku di bumi, kau di langit
Aku diserahkan pada manusia, sedang kau pada malaikat
Aku rumput dan kau matahari
Kau tahu itu tanpa perlu kuulangi
Kau titah aku untuk menunggui beribu teluk
Kau kata, kita akan jumpa di salah satunya
Aku takut pada kata ‘jumpa’
karena sebelum jumpa, harus ada pisah
Pisah dan jumpa, seperti matahari dan rumput
Aku rumput dan kau matahari
Aku akan tetap menungguimu, tapi kau tetap berlalu setiap hari di balik laut atau gunung
Aku dikerat oleh tanah, kau bebas berlari di pucuk langit
Aku rumput dan kau matahari
Bila aku meludahmu, aku akan mengotori wajahku sendiri
Kau matahari, bebas meludahku setiap hari tanpa mengotori wajah bahkan kakimu
Warnamu semakin memudar pada rambutku
Mengarahkan salju untuk melebur dalam pekat
Kau mendayung perahu menuju putih, merubah semua gelap
Aku rumput dan kau matahari
Aku tetap mengulangnya meski tergagap
Aku rumput dan kau matahari
Saat kau pongkah aku bersiap
Demi berkata, aku rumput dan kau matahari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar