Senin, 01 Juli 2013

Ini tentang aku, penguasa, ayah, semut, dan tikus


Aku payah!
Sepayah jerih ayah mengucap maaf pada ibu ketika salah..

Aku ribet!
Seribet anak - anak semut mengumpulkan sisa - sisa butir gula di dalam plastik bekas..

Kau tahu penguasa?
Mereka bahkan tak pernah melihat tikus beranak..
Tapi mereka bisa meniru tingkah tikus kala mencuri potongan - potongan keju dari balik kulkas, demi anak - anaknya..
Mereka lebih payah dari aku.
Lebih ribet dari semilyaran semut.
Terlebih mata mereka menghijau saat bertatapan dengan mata uang.

Mereka lebih mahir dari pencopet,
Lebih berani dari pencuri,
Lebih garang dari perampok,
lebih rakus dari tikus!

Sepayah - payahnya jerih ayah mengucap maaf pada ibu ketika salah, mereka lebih payah!

Seribet - ribetnya anak semut saat mengumpulkan sisa - sisa butir gula di dalam plastik bekas, mereka lebih ribet!
Mereka tak hanya mengambil sisa - sisa butir gula.
Akan tetapi, plastik bekasnya juga..

Aku Rumput dan Kau Matahari

Cahayamu telah pendar di kepingan wajahku
Menyatu dengan urat – urat biru yang tampak dari ujung kuku
Itu warna surga kau kata, meski kita tahu warna surga lebih indah dari ujung kuku
Aku manggut demi menangkap silaumu yang segera berlalu

Sinarmu semakin gelap pada jari – jari tanganku
Bagai matahari yang melorot di balik laut berair perak, membenamkan segala terang
Memberitakan pada manusia  ia mulai lemah menjajakan cahaya
Kau lebih tau tentang itu kurasa, karena kau tinggi seperti matahari
Seperti yang dulu pernah kukata
Aku rumput dan kau matahari
Semua bisa menginjakku, tapi tak bisa menginjakmu
Angin dapat menggolekkan tubuhku, tapi tak dapat menggolekkanmu
Aku buram tanpamu, dan kau tetap bercahaya tanpa aku

Aku rumput dan kau matahari
Aku di bumi, kau di langit
Aku diserahkan pada manusia, sedang kau pada malaikat
Aku rumput dan kau matahari
Kau tahu itu tanpa perlu kuulangi

Kau titah aku untuk menunggui beribu teluk
Kau kata, kita akan jumpa di salah satunya
 Aku takut pada kata ‘jumpa’
karena sebelum jumpa, harus ada pisah
Pisah dan jumpa, seperti matahari dan rumput
Aku rumput dan kau matahari
Aku akan tetap menungguimu, tapi kau tetap berlalu setiap hari di balik laut atau gunung
Aku dikerat oleh tanah, kau bebas berlari di pucuk langit

Aku rumput dan kau matahari
Bila aku meludahmu, aku akan mengotori wajahku sendiri
Kau matahari, bebas meludahku setiap hari tanpa mengotori wajah bahkan kakimu

Warnamu semakin memudar pada rambutku
Mengarahkan salju untuk melebur dalam pekat
Kau mendayung perahu menuju putih, merubah semua gelap
Aku rumput dan kau matahari
Aku tetap mengulangnya meski tergagap
Aku rumput dan kau matahari
Saat kau pongkah aku bersiap
Demi berkata, aku rumput dan kau matahari


Manusia adalah alien(?)



LANGIT…
Pernahkah teman-teman mendengar kata “langit”!?
Ya, pasti semua orang tau apa itu langit.
Lalu, bisakah teman-teman memberikan definisi kata “langit”?
Tak semua orang mampu untuk itu.

Sebenarnya langit bukan hanya sebatas apa yang ada di atas kita, tapi lebih dari itu. Dalam Al – Quran, Allah menyebutkan kata – kata langit sebagai sumber rezeki bagi manusia.

“sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, adanya perahu yang berlayar di laut membawa barang yang berfaedah bagi manusia,air yang diturunkan Allah dari langit yang digunakan untuk menyuburkan bumi sesudah mati dan membiakkan binatang – binatang serta pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, benar-benar menjadi tanda bagi orang-orang yang berfikir.”(Al-Baqarah : 164)

Langit diciptakan oleh Allah sebagai tanda kebesaran-Nya, yang darinya diturunkan hujan untuk menyuburkan bumi sebagai sumber rezeki bagi seluruh penghuninya.
Jadi, langit dapat kita definisikan sebagai seluruh lapisan jagad raya. Jagad raya terdiri dari milyaran galaksi, dan dari satu galaksi terdapat milyaran bintang. Bumi berada pada galaksi yang paling kecil (galaksi Bimasakti). Lalu pertanyaannya adalah dari milyaran galaksi, apakah kehidupan hanya berlangsung di atas bumi? Apakah tidak ada kehidupan pada milyaran galaksi yang lain? Apakah alien itu ada?


TRAGEDI TENTARA BERGAJAH…

Teman-teman tentu ingat dan tau pasti tragedy apa yang terjadi pada saat kelahiran Rasulullah, yaitu pada tahun Fiil (gajah). Pada masa itu, tentara Abrahah dan rombongannya bergerak untuk menghancurkan Ka’bah. Tapi sebelum sempat dihancurkan, Allah telah mengutus suatu rombongan makhluk yang dinamakan burung Ababil untuk melempar pasukan tersebut dengan kerikil yang menghabisi daging mereka ibarat daun yang dimakan ulat. Namun, para ahli tidak pernah menemukan spesies burung Ababil di dalam dunia ini. Kalau begitu, darimana asal burung tersebut? Dari surgakah? Atau dari galaksi yang lain?

Wallahu’alam….

MANUSIA ADALAH ALIEN…???

Dahulu, manusia yang pertama diciptakan oleh Allah SWT. adalah Nabi Adam AS. Dan kemudian turut diciptakan pendampingnya yaitu Siti Hawa. Mereka berdua tinggal bahagia di dalam syurga. Namun karena suatu kesalahan yang mereka lakukan, Allah melemparkan keduanya diatas muka bumi. Hawa terlempar di Benua Afrika, sedangkan Adam terlempar di Palestina. Kemudian keduanya kembali bertemu di Jabal Rahmah setelah beratus – ratus tahun lamanya. Setelah itu, Adam dan Hawa kembali ke Palestina dan membangun Masjidil Aqsa.

Ini membuktikan bahwa manusia bukanlah penduduk asli bumi, melainkan ALIEN (pendatang).

Lalu, bagaimana dengan teori Evolusi yang dikemukakan oleh evolusonis?

Neanderthal, Cro-Magnon, Homo floresiensis, Homo erectus, Homo ergaster, Homo habilis, Paranthropus bosei, Paranthropus aethiopicus, Australopithecus africanus, dan Australopithecus afarensis. Nama – nama itu diciptakan oleh para ilmuwan sebagai nama nenek moyang kita sebelum akhirnya berevolusi (berubah) menjadi Homo Sapiens (manusia modern). Namun, sebenarnya tidak ada bukti fosil yang nyata untuk mendukung gambaran “manusia kera” yang tidak putus – putusnya diindoktrinasi media masa dan akademisi evolusionis tersebut. Dengan kuas di tangan, evolusionis membuat makhluk-makhluk khayalan. Namun, mereka memiliki masalah serius karena tidak ada fosil – fosil yang cocok dengan gambar – gambar itu. Salah satu metode menarik yang mereka gunakan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan MEMBUAT fosil-fosil yang tak dapat mereka temukan.

Lalu, apa hubungan semua spesies itu dengan kita, manusia modern?? Nah, itulah mata rantai yang terputus yang masih terus berusaha dicari “sambungannya” oleh para ilmuwan.

Selama bumi masih ada, evolusi akan terus terjadi. Syarat evolusi adalah:
1. Variasi abadi di bumi. Misalnya dapat kita lihat, tidak ada satu manusiapun yang identik atau sama persis, meski kembar siam sekalipun.
2. Lingkungan yang tidak stabil, yaitu adanya perubahan siang dan malam, perubahan suhu, dll.

Sebagai contoh nyata evolusi, dapat kita lihat perbedaan dari postur tubuh orang terdahulu dengan orang zaman sekarang. Juga dari segi usia, misalnya para nabi terdahulu (sebelum Nabi Muhammad), mereka hidup berabad – abad lamanya, sedangkan Nabi Muhammad hanya hidup 63 tahun.

Tanda bahwa manusia bukan makhluk bumi :
1. Dapat memperlebar kisaran toleransi.
Takdir dalam bahasa sains disebut dengan kisaran toleransi. Kisaran toleransi memiliki tiga zona. Zona pertama disebut batas bawah. Zona ini mempengaruhi tumbuh kembang makhluk hidup. Apabila makhluk hidup berada pada zona ini, maka makhluk tersebut tidak dapat berkembang dan mempunyai keturunan. Zona kedua adalah zona ideal (preferendum). Makhluk hidup dapat melakukan segala sesuatu pada zona ini. Dapat meneruskan hidupnya dengan baik, berkembang biak, dan tumbuh sempurna. Zona terakhir disebut zona atas. Bila makhluk hidup berada pada zona ini, itu pertanda bahwa makhluk tersebut mengalami stress dan mendekati mati. Dapat kita lihat, zona yang terbaik adalah zona kedua. Nah, zona ini adalah takdir yang tidak dapat diubah oleh makhluk bumi. Sebagai contoh, ikan takdirnya adalah hidup di dalam air. Maka ia tidak dapat hidup ditempat lain. Kisaran toleransinya hanya sebatas air.
Namun, manusia yang bukan asli makhluk bumi dapat memperlebar kisaran toleransi untuk dirinya sendiri dan makhluk lain. Contoh: manusia ditakdirkan hidup di darat. Namun, manusia dapat juga masuk ke air selama berjam – jam dengan bantuan tabung oksigen.

Contoh selanjutnya, manusia dapat mengubah habitat padi. Habitat padi yang sebenarnya bukan disawah. Coba saja teman – teman uji. Lempar beberapa biji padi kesawah, lalu biarkan saja. Jangan beri perawatan, jangan beri pupuk. Akan tumbuhkah padi tersebut??
Tidak!
Namun manusia dapat merancang habitat baru bagi makhluk hidup di bumi.


2. Bumi tidak butuh manusia.
Saya akan mencontohkan satu makhluk bumi yang tampangnya kelihatan jelek, yaitu kelelawar.
Kelelawar adalah makhluk hidup yang berfungsi dalam penyerbukan durian. Bayangkan jika tanpa kelelawar, tak ada yang membantu penyerbukan durian. Lalu batang durian akan punah dan makhluk hidup yang bergantung pada durian akan mati. Habitat – habitat lain yang bergantung pada makhluk hidup yang telah mati tadi, juga akan mati. Dan begitu seterusnya. Itu hanya jika bumi kehilangan satu makhluk jelek, KELELAWAR.

Nah, bagaimana jika bumi kehilangan manusia?

Coba kita bayangkan. Jika kita meninggal dunia, berpengaruhkah bagi alam dan makhluk lain?
Jika orang sekampung meninggal dunia, berpengaruhkah bagi habitat – habitat lain?
Jika orang se-negara meninggal dunia, berpengaruhkah bagi kelangsungan makhluk hidup lain?
TIDAK!
Karena bumi tidak butuh manusia. Karena manusia hanya pendatang, alien.
Tanpa manusia, bumi akan semakin makmur dan subur. Ingat, kita hanya menumpang diatas planet milik makhluk lain. Kita adalah alien. Kita hanya berperan sebagai pengelola, bukan pemilik. Jika kita baik dalam mengelola, maka baiklah bumi. Jika tidak, maka buruklah keadaan bumi.






Sumber : hasil dengar dari mata kuliah Ilmu Kealaman Dasar bersama pak Dalil Sutekad.

Pahlawan Matahari


Saat menempuh perjalanan yg lumayan panjang, barisan sawah rapi menghormati kami dalam lambaian padinya. Aku, ayah, dan ibuku berhenti sejenak utk meregangkan otot-otot yg kaku. Tiba-tiba lewat di hadapan kami seorang petani wanita separuh baya lengkap dgn alat perangnya. Wanita itu tersenyum dgn peluh bersinar di dahinya krn tertimpa sinar mentari. Aku balas senyum.

"Hek that jak u blang.." Ibuku tiba-tiba berkomentar.

Otakku langsung berkejar-kejaran dgn pernyataan ibu barusan. Ya, memang sangat lelah sepertinya. Dari usai subuh, berjalan kaki menuju sawah, kemudian melakukan segala macam 'prosesi' di tengah lumpur, blm lagi jika ada lintah atau terinjak keong sawah.. Pulang saat matahari sedang heboh-hebohnya memamerkan kekuatan cahayanya.
Itu utk awal penanaman. Jika padi sudah merunduk, sang petani bisa sampai petang 'nongkrong' di sawah utk menjaga peluh keringatnya yg menjelma padi dari gangguan burung-burung kecil.

Hmmm..
Setelah ku pikir-pikir, apa yg petani usahakan dgn susah payah, tidak mendapatkan hasil yg setimpal dgn apa yg mereka lakukan. Mereka hanya dapat lelahnya saja, padahal sudah memberi makan orang se-Indonesia!
Mengapa pemerintah tidak mengadakan anggaran khusus utk petani?
Setidaknya utk mensejahterakan hidup mereka.
Selama ini yg kita lihat atau kita dengar, petani itu identik dgn kemiskinan atau rumah-rumah yg reyot.

Andai saja petani mogok kerja, kita mau makan apa!?
Andai saja petani juga ikut berlomba-lomba mencalonkan diri menjadi caleg, kita mau telan apa!?
Andai saja semua petani ingin kaya mendadak, bagaimana nasib perut kita!?


Untung petani-petani kita tidak se-'luba' itu. Apa yg ditumbuhkan dari perut bumi, cukup bagi mereka utk menghidupkan keluarga mereka bahkan manusia se-Indonesia!

Dgn itu, patut bagi kita utk menghargai petani yg telah memberi kita makan selama hidup. Kita dapat membeli beras dari mereka, tp keikhlasan mereka dlm upaya menghasilkan beras tersebut tak terbayarkan dgn berapapun uang yang kita punya.. Petani juga pahlawan. Yg rela menumpahkan keringat demi kita. Pahlawan di bawah matahari..


*26 Januari 2010, di atas jalan mulus*

210


Tahun 2012 silam, aku ditugaskan terbang dari Banjarmasin, Kalsel. Aku beserta beberapa teman, menginap di sebuah guest house yang terletak tak terlalu jauh dari bandara. Guest house tersebut tak terlalu besar, cuma terdiri dari dua lantai. Jika kutebak, jumlah kamar di sana mungkin sekitar 50 kamar. Guest house didesain tak jauh-jauh dari bentuk rumah.  Tak ada lift, hanya ada tangga untuk naik ke lantai dua.


Banyak sekali cerita yang sempat kurekam di kepalaku saat menginap di sana. Salah satunya kisah kamar 210. Itu bukan kamar tempatku beristirahat, tapi kamar milik dua temanku, Kak Refi dan Kak Gina. Baiklah, sebelumnya aku akan memperkenalkan temanku yang lain agar memudahkan pembaca untuk membayang-bayangkan nantinya. Teman sekamarku bernama Cut (aku memakai embel-embel “kak” di depan namanya, berhubung BELIAU lebih TUA dariku :p). Aku dan Kak  Cut tidur di kamar 207. Di seberang kamar kami adalah kamar milik Lisya dan Kak Farah, kamar 208. Sedangkan kamar 210 terletak tepat di samping kamar 208, atau dengan kata lain di seberang kamarku juga tapi agak pinggiran.


Aku  lupa malam itu malam apa. Yang pasti pada malam itu, aku beserta kawan-kawan segrup (Purser, Akhyar, Bang Rifa, Kak Refi, Kak Gina, Kak Farah, Kak Cut,  dan Lisya) baru saja menyelesaikan tahlilan untuk almarhumah nenek Kak Cut yang baru meninggal siang itu. Selesai tahlilan, Kak Refi, Kak Gina, Kak Farah, dan Lisya pamit. Mereka akan menuju ke Duta Mall untuk cuci mata.  Sedangkan aku dan Kak Cut tetap di kamar untuk menunggu grup lain yang akan tahlilan di kamar kami. Saat sedang khusyu’ dalam do’a, tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk. Aku beranjak dan membukakan pintunya. Di depan pintu telah berdiri seorang laki-laki berseragam. Pengantar laundry.  Pria tersebut menyerahkan seragamku yang telah dilaundry.

“Mba, ini baju punya kamar 210. Tadi pemiliknya telfon tapi pas saya ketuk pintunya nggak ada yang buka. Saya titip sama mba aja ya...” si Pria menunjukkan seragam lain yang berada di tangannya.

“Oke, boleh. Mereka udah keluar Mas.” Aku menerima laundry tersebut

“Mba, ini yang paling penting untuk dikasih ya...” Pria laundry itu menunjukkan pakaian abaya berwarna hitam dengan corak bunga merah hati. Pakaian itu telah dilipat rapi dan dimasukkan ke plastik transparan bertuliskan, 210.



Setelah usai urusan dengan pria laundry, pintu kututup kembali. Tak lama, tahlilanpun selesai dan teman-teman langsung meninggalkan kamarku untuk beristirahat di kamar masing-masing. Kala itu kalau tidak salah masih pukul 9 malam. Aku mengirim pesan via bbm untuk Kak Refi,

“Kak, nanti kalau udah pulang ambil laundry di kamar Zurry ya...” dan dibalas “oke” oleh Kak Refi.

Selang beberapa lama, saat sedang nonton sambil leyeh-leyeh, tiba-tiba telfon kamarku berdering. Kak Cut yang mengangkat.

“Zur, Laundry telfon. Katanya mau ngambil laundrian kamar 210. Tadi orang kamar itu telfon lagi katanya minta laundrynya dianterin.” Kak Cut menjelaskan padaku tentang telfon tadi.

“Lho... tadi Zurry udah bbm kak Refi, Zurry suruh ambil laundrynya di kamar kita. Kok orang itu telfon lagi ke laundry!?” Aku merasa aneh.

“Nggak taulah Zur...”


Pintu diketuk lagi. Kak Cut langsung menuju lemari dan mengambil laundry titipan tadi lalu menyerahkannya pada si Pria Laundry. Urusan selesai. Kami berusaha tidur dan TV tetap menyala. Selang beberapa menit, terdengar lagi suara ketukan pintu. Entah siapa yang membuka pintu kamar kala itu, aku lupa. Dan ternyata yang mengetuk dan berada di depan pintu saat itu adalah KAK REFI dan KAK GINA.

“Mana baju kami?” Kak  Refi langsung bertanya.

Aku jelas-jelas shock. Entah dengan Kak Cut.
“Bukannya tadi kakak udah telfon laundry, minta dianterin bajunya!?” Aku balik tanya

“Nggak ah, kami aja baru pulang”. Kak Refi pasang muka yang tidak biasa. Keningnya berkerut beberapa lapis. Sedangkan aku dan Kak Cut saling bertatapan.

“Jangan bercanda Kak. Tadi kakak yang telfon laundry kan!?” Aku berusaha memastikan.

“Nggak, kami baru pulang. Belum masuk kamar pun.” Kak Gina meyakinkanku.

“Terus yang telfon dari kamar 210 tadi siapa?”


 Kami semua terdiam. Saling bertatapan. Tiba-tiba saja listrik padam, gorden jendela tersingkap sendiri. Kami mendengarkan ada yang mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan sangat kuat. Kaca itu pecah. Kami histeris. Berteriak-teriak dan berusaha keluar dari kamar itu. Tapi pintunya tertutup sendiri. Aku berusaha membukanya, tapi tidak berhasil. Temanku yang lain mulutnya komat kamit membaca doa. Aku masih berusaha membuka pintu, menendang-nendangnya. Tapi tetapa saja pintu itu tak mau terbuka. Dari jendela tiba-tiba aku melihat sesosok makhluk berlumuran darah dari kepalanya. Rambutnya panjang menutupi wajah. Ia melayang-layang di luar jendela. Teriakan kami makin histeris hingga tak terasa keringat bercampur air mata. Kami kalang kabut. Dan ternyata, kejadian ini tidak termasuk ke dalam kejadian sebenarnya. Cerita ini kan judulnya 210, bukan 207. :p

Baiklah, kita lanjut. Yang di atas tadi cuma intermezzo... hihi.

*serius*

Kemudian aku, Kak Gina dan Kak Refi menuju ke kamar 210 untuk memastikan ada siapa di sana. Jantungku bekerja lebih keras. Saat pintu dibuka, aku masuk dan tidak ada siapapun di kamar. Tidak ada pula baju yang sudah dilaundry. Jantungku semakin keras kerjanya. Cepat-cepat kami keluar dari kamar itu. Kak Refi dan Kak Gina masuk ke kamar 208 dan mengungsi di sana. Sedangkan aku kembali ke dalam pelukan Kak Cut *so sweet*


Kak Refi akhirnya menelfon laundry dan meminta pakaiannya diantarkan ke kamar 208. Aku mengunjungi kamar 208 untuk memastikan. Saat aku lihat, tidak ada baju abaya hitam bercorak bunga merah hati di sana. Aku tanyakan pada kak Refi dan Kak Gina, mereka mengakui tidak  pernah punya baju dengan ciri seperti itu.



Lalu pertanyaannya, ITU BAJU SIAPA!? T_T




NOTE: Tulisan ini bukan fiktif. Selain kisah di atas, masih banyak sekali kisah-kisah lainnya yang malas untuk kuceritakan. :D

Semoga tidak mimpi buruk, teman. T_T