Senin, 01 Juli 2013

210


Tahun 2012 silam, aku ditugaskan terbang dari Banjarmasin, Kalsel. Aku beserta beberapa teman, menginap di sebuah guest house yang terletak tak terlalu jauh dari bandara. Guest house tersebut tak terlalu besar, cuma terdiri dari dua lantai. Jika kutebak, jumlah kamar di sana mungkin sekitar 50 kamar. Guest house didesain tak jauh-jauh dari bentuk rumah.  Tak ada lift, hanya ada tangga untuk naik ke lantai dua.


Banyak sekali cerita yang sempat kurekam di kepalaku saat menginap di sana. Salah satunya kisah kamar 210. Itu bukan kamar tempatku beristirahat, tapi kamar milik dua temanku, Kak Refi dan Kak Gina. Baiklah, sebelumnya aku akan memperkenalkan temanku yang lain agar memudahkan pembaca untuk membayang-bayangkan nantinya. Teman sekamarku bernama Cut (aku memakai embel-embel “kak” di depan namanya, berhubung BELIAU lebih TUA dariku :p). Aku dan Kak  Cut tidur di kamar 207. Di seberang kamar kami adalah kamar milik Lisya dan Kak Farah, kamar 208. Sedangkan kamar 210 terletak tepat di samping kamar 208, atau dengan kata lain di seberang kamarku juga tapi agak pinggiran.


Aku  lupa malam itu malam apa. Yang pasti pada malam itu, aku beserta kawan-kawan segrup (Purser, Akhyar, Bang Rifa, Kak Refi, Kak Gina, Kak Farah, Kak Cut,  dan Lisya) baru saja menyelesaikan tahlilan untuk almarhumah nenek Kak Cut yang baru meninggal siang itu. Selesai tahlilan, Kak Refi, Kak Gina, Kak Farah, dan Lisya pamit. Mereka akan menuju ke Duta Mall untuk cuci mata.  Sedangkan aku dan Kak Cut tetap di kamar untuk menunggu grup lain yang akan tahlilan di kamar kami. Saat sedang khusyu’ dalam do’a, tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk. Aku beranjak dan membukakan pintunya. Di depan pintu telah berdiri seorang laki-laki berseragam. Pengantar laundry.  Pria tersebut menyerahkan seragamku yang telah dilaundry.

“Mba, ini baju punya kamar 210. Tadi pemiliknya telfon tapi pas saya ketuk pintunya nggak ada yang buka. Saya titip sama mba aja ya...” si Pria menunjukkan seragam lain yang berada di tangannya.

“Oke, boleh. Mereka udah keluar Mas.” Aku menerima laundry tersebut

“Mba, ini yang paling penting untuk dikasih ya...” Pria laundry itu menunjukkan pakaian abaya berwarna hitam dengan corak bunga merah hati. Pakaian itu telah dilipat rapi dan dimasukkan ke plastik transparan bertuliskan, 210.



Setelah usai urusan dengan pria laundry, pintu kututup kembali. Tak lama, tahlilanpun selesai dan teman-teman langsung meninggalkan kamarku untuk beristirahat di kamar masing-masing. Kala itu kalau tidak salah masih pukul 9 malam. Aku mengirim pesan via bbm untuk Kak Refi,

“Kak, nanti kalau udah pulang ambil laundry di kamar Zurry ya...” dan dibalas “oke” oleh Kak Refi.

Selang beberapa lama, saat sedang nonton sambil leyeh-leyeh, tiba-tiba telfon kamarku berdering. Kak Cut yang mengangkat.

“Zur, Laundry telfon. Katanya mau ngambil laundrian kamar 210. Tadi orang kamar itu telfon lagi katanya minta laundrynya dianterin.” Kak Cut menjelaskan padaku tentang telfon tadi.

“Lho... tadi Zurry udah bbm kak Refi, Zurry suruh ambil laundrynya di kamar kita. Kok orang itu telfon lagi ke laundry!?” Aku merasa aneh.

“Nggak taulah Zur...”


Pintu diketuk lagi. Kak Cut langsung menuju lemari dan mengambil laundry titipan tadi lalu menyerahkannya pada si Pria Laundry. Urusan selesai. Kami berusaha tidur dan TV tetap menyala. Selang beberapa menit, terdengar lagi suara ketukan pintu. Entah siapa yang membuka pintu kamar kala itu, aku lupa. Dan ternyata yang mengetuk dan berada di depan pintu saat itu adalah KAK REFI dan KAK GINA.

“Mana baju kami?” Kak  Refi langsung bertanya.

Aku jelas-jelas shock. Entah dengan Kak Cut.
“Bukannya tadi kakak udah telfon laundry, minta dianterin bajunya!?” Aku balik tanya

“Nggak ah, kami aja baru pulang”. Kak Refi pasang muka yang tidak biasa. Keningnya berkerut beberapa lapis. Sedangkan aku dan Kak Cut saling bertatapan.

“Jangan bercanda Kak. Tadi kakak yang telfon laundry kan!?” Aku berusaha memastikan.

“Nggak, kami baru pulang. Belum masuk kamar pun.” Kak Gina meyakinkanku.

“Terus yang telfon dari kamar 210 tadi siapa?”


 Kami semua terdiam. Saling bertatapan. Tiba-tiba saja listrik padam, gorden jendela tersingkap sendiri. Kami mendengarkan ada yang mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan sangat kuat. Kaca itu pecah. Kami histeris. Berteriak-teriak dan berusaha keluar dari kamar itu. Tapi pintunya tertutup sendiri. Aku berusaha membukanya, tapi tidak berhasil. Temanku yang lain mulutnya komat kamit membaca doa. Aku masih berusaha membuka pintu, menendang-nendangnya. Tapi tetapa saja pintu itu tak mau terbuka. Dari jendela tiba-tiba aku melihat sesosok makhluk berlumuran darah dari kepalanya. Rambutnya panjang menutupi wajah. Ia melayang-layang di luar jendela. Teriakan kami makin histeris hingga tak terasa keringat bercampur air mata. Kami kalang kabut. Dan ternyata, kejadian ini tidak termasuk ke dalam kejadian sebenarnya. Cerita ini kan judulnya 210, bukan 207. :p

Baiklah, kita lanjut. Yang di atas tadi cuma intermezzo... hihi.

*serius*

Kemudian aku, Kak Gina dan Kak Refi menuju ke kamar 210 untuk memastikan ada siapa di sana. Jantungku bekerja lebih keras. Saat pintu dibuka, aku masuk dan tidak ada siapapun di kamar. Tidak ada pula baju yang sudah dilaundry. Jantungku semakin keras kerjanya. Cepat-cepat kami keluar dari kamar itu. Kak Refi dan Kak Gina masuk ke kamar 208 dan mengungsi di sana. Sedangkan aku kembali ke dalam pelukan Kak Cut *so sweet*


Kak Refi akhirnya menelfon laundry dan meminta pakaiannya diantarkan ke kamar 208. Aku mengunjungi kamar 208 untuk memastikan. Saat aku lihat, tidak ada baju abaya hitam bercorak bunga merah hati di sana. Aku tanyakan pada kak Refi dan Kak Gina, mereka mengakui tidak  pernah punya baju dengan ciri seperti itu.



Lalu pertanyaannya, ITU BAJU SIAPA!? T_T




NOTE: Tulisan ini bukan fiktif. Selain kisah di atas, masih banyak sekali kisah-kisah lainnya yang malas untuk kuceritakan. :D

Semoga tidak mimpi buruk, teman. T_T

Tidak ada komentar:

Posting Komentar